Presiden Joko Widodo didampingi Menpora Imam
Nahrawi, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono serta Staf
Khusus Presiden Johan Budi meninjau lokasi Proyek Wisma Atlet di Bukit
Hambalang,Kabupaten Bogor, Jumat (18/3).
JAKARTA -- Presiden Joko Widodo dinilai
berlebihan merespons kritikan ketua umum Partai Demokrat, Susilo Bambang
Yudhoyono. Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center
(DCSC), Zaenal A Budiyono menyebut serangkaian hasil yang disarikan
dari Tour de Java Partai Demokrat mestinya dapat jadi masukan dan energi
positif bagi pemerintahan Jokowi.
Zaenal mengatakan, kritik Presiden Ke-6 TI kepada Presiden RI Jokowi merupakan hal yang biasa. Kritikan SBY, kata dia, tak lebih dari seperti kritik elite partai politik lainnya. "Justru yang mengherankan adalah reaksi Presiden Jokowi yang terkesan berlebihan (meski hanya simbolik) dengan mengunjungi Hambalang," kata dia, Rabu (23/3).
Zaenal mengatakan, bukan hal yang mustahil, dalam kondisi demikian, Jokowi benar-benar terganggu dengan kritik SBY. Zaenal menengarai, mengunjungi Hambalang yang tidak terjadwal sebelumnya merupakan jawaban Jokowi merespons sejumlah kritikan SBY. Padahal, lanjut pengajar di Universitas Al Azhar tersebut, selama Jokowi menjadi presiden sampai lima tahun ke depan, maka kritik akan datang dan pergi setiap hari.
"Itulah hukum alam demokrasi, sebagaimana yang dialami SBY selama sepuluh tahun pemerintahannya," kata dia.
Dia menambahkan, seperti kritik keras mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Muhammad ke PM Malaysia Najib Razak. Dalam hal yang sama, kritik tersebut disambut berlebihan oleh Najib, karena elite-elite di sana belum biasa berdemokrasi.
"Paling tidak demokrasi di Malaysia sekarang masih shadow democracy. Berbeda dengan demokrasi kita yang mendapat pengakuan dunia, bahkan dikatakan sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia," kata dia.
Oleh karena itu, elite-elite di Indonesia termasuk Presiden Jokowi, juga harus menunjukkan sikap kedemokratisannya. "Tentu saja, agar Jokowi dapat melihat kritik sebagai sesuatu yang positif demi perbaikan," kata Zaenal menegaskan.
Sumber : Republika.com




No comments:
Post a Comment