RAMBAHMEDIA - Jakarta - Ketua Umun PP.
Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak dalam sambutannya di
acara DIALOG PUBLIK, dengan judul "Politik, Pemimpin dan Etika
Komunikasi Publik",(10/11). Dipembukaan sambutannya diawali
dengan takbir 4 kali dan merdeka.
Dahnil Anzar
Simanjuntak menjelaskan bahwasanya “takbir” merupakan kata-kata
yang memerdekakan, meskipun ada pihak-pihak tertentu yang menganggap
bahwa setiap orang yang meneriakan “takbir” diindikasi radikal.
Imbuhnya sangat disayangkan presepsi ini, ini perlu kita luruskan
kembali, dengan “takbir” para pejuang-pejuang Indonesia muncul
semangat untuk memerdekakan Indonesia. Namun, sekarang “takbir”
mulai di reduksi sehingga seolah-olah umat islam tidak ada andil
dalam memerdekakan bangsa ini, justru saat ini orang yang meneriakkan
“takbir” dituduh dengan tuduhan macam-macam. Ini merupakan hasil
dari stigmasisasi komunikasi publik yang kurang baik.
Dalam lanjutan
pidatonya, Dahnil Anzar Simanjuntak menyayangkan adanya komunikasi
publik dengan memanfaatkan media oline untuk menebar berita-berita
tidak benar, yang lebih parah lagi menyebar fitnah dimana-mana.
Dahnil Anzar
Simanjuntak heran dengan media-media online yang menggunakan nama
nasionalis, dan akun-akun media social yang sering menebar
berita-berita fitnah, tidak ada tindakan tegas dari kominfo, namun
media-media islam yang memberikan berita kebenaran malah di tutup.
Ada apa sebenarnya ? tandasnya.
Diakhir sambutannya,
Dahnil Anzar Simanjuntak berpesan kepada suluruh awak media agar
memberikan informasi sesuai dengan fakta dan tidak memelintirkan
berita ataupun menebar fitnah.
(Ntz/Hn)





No comments:
Post a Comment