Pelaksanaan reklamasi atau pulau buatan dikhawatirkan semakin
memperburuk regenerasi Rumah Tangga Nelayan. Jumlah rumah tangga nelayan
sendiri tercatat merosot drastis dalam satu dekade terakhir.
Demikian disebutkan dalam laporan awal tahun Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (Kiara) yang dirilis pada awal tahun 2017.
Deputi Hukum dan Kebijakan Kiara, Rosiful Amirudin mengatakan, proyek
pembangunan di wilayah pesisir, khususnya reklamasi, yang masih
berlangsung sampai saat ini, dipastikan dapat mengurangi jumlah rumah
tangga nelayan secara signifikan.
“Dengan demikian, negara ini dapat disebut negara maritim tanpa
kehadiran dan keadilan bagi nelayan,” cetus Rosiful kepada Aktual.Com di
Jakarta, Selasa (7/3).
Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah
tangga nelayan di Indonesia dalam periode satu dekade terakhir
menunjukkan kecenderungan penurunan sebanyak 46%. BPS mencatat jumlah
rumah tangga nelayan di Indonesia pada 2003 masih sebanyak 1,6 juta.
Jumlah tersebut merosot menjadi 864.000 saja, dalam waktu sepuluh
tahun. “Artinya ada 736,000 rumah tangga nelayan hilang dalam 10 tahun
terakhir akibat dari kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat,”
sesal Rosiful.
Kecenderungan penurunan jumlah rumah tangga pun terjadi ibu kota, DKI
Jakarta. Berdasar Pusat Data dan Informasi Kiara, angka rumah tangga
nelayan bahkan menyusut drastis selama 2012-2014.
Pada 2012, jumlah rumah tangga nelayan masih tercatat sebanyak
61.813. Namun, hanya dalam waktu dua tahun setelahnya, jumlah rumah
tangga nelayan di Jakarta hanya tinggal 27.396 saja, hampir sepertiga
dari jumlah 2012.
Berdasarkan permasalahan tersebut, Rosiful pun meminta pemerintah
untuk mengevaluasi dan menghentikan seluruh proyek pembangunan di
wilayah pesisir yang merugikan kehidupan nelayan di Indonesia, termasuk
proyek reklamasi yang dilakukan di Jakarta dan beberapa daerah lainnya.
Proyek reklamasi sendiri dianggapnya melanggar visi poros maritim dunia
yang digagas oleh Presiden Jokowi Widodo.
“Pemerintah dituntut untuk menunjukkan keberpihakan yang serius
terhadap masyarakat, bukan kepada korporasi besar yang hendak menguasai
ruang laut secara massif,” kata dia.
Data Statistik Sumberdaya Laut dan Pesisir 2016, mencatat beberapa
provinsi yang wilayahnya terdapat proyek reklamasi, pertambangan dan
privatisasi berbanding lurus dengan penurunan jumlah nelayan yang sangat
signifikan
“Pada tahun-tahun mendatang, keberpihakan pemerintah kepada
masyarakat pesisir penting dibuktikan karena selama ini hal tersebut
tidak dirasakan oleh mereka,” tukas dia.
Sumber : Eramuslim.com





No comments:
Post a Comment